Minggu, 27 Maret 2016

KONSUMTIF VS PRODUKTIF

Konsumtif dan Produktif adalah 2 kata yang terlihat berlawanan dan memiliki konotasi yang berlawanan pula, konsumtif dianggap negatif sedangkan produktif dianggap positif. Mari kita pahami tentang makna dari 2 kata tersebut ya

Konsumtif adalah kata sifat, berasal dari kata dasar “konsumsi” maka dengan demikian kata konsumtif berarti sifat mengkonsumsi, memakai, menggunakan, menghabiskan sesuatu

Sementara produktif adalah bentuk ajektif dari kata benda "produksi"Arti produktif adalah “banyak hasilnya”, atau bisa kita artikan “terus menerus menghasilkan”.


KONSUMTIF


Orang yang bertipe Konsumtif akan lebih cenderung untuk memenuhi kebutuhannya dengan membeli sebuah barang. Mereka tidak pernah berpikir mengenai bagaimana barang itu dibuat, mereka lebih fokus tentang bagaimana memiliki barang tersebut.

Terkadang karena keinginannya untuk memenuhi kebutuhan yang sudah tidak bisa lagi ditahan-tahan, mereka cenderung membeli barang dalam jumlah yang besar dan pada beberapa kondisi seperti adanya Diskon dan berubahnya Trend, mereka membeli barang yang sebenarnya tidak terlalu mereka butuhkan. Hal ini tentu saja bisa kita katakan pemborosan, yang lama-kelamaan kalau tidak ditangani bisa menimbulkan hutang ekonomi.
Mengapa demikian? 

karena dana yang anda miliki untuk memenuhi kebutuhan anda, pasti lama-kelamaan akan berkurang, sedangkan tingkat kebutuhan anda semakin meningkat saja.

Assuari (1987), menambahkan bahwa perilaku konsumtif dapat terjadi karena:
a.    Pembeli ingin tampak berbeda dari yang lain
Remaja melakukan pembelian dengan maksud untuk menunjukkan bahwa dirinya berbeda dengan yang lain.
b.    Kebanggaan karena penampilan dirinya
Seseorang membeli sesuatu didasarkan pada kebutuhan untuk memamerkan dirinya.
c.    Ikut-ikutan
Seseorang melakukan tindakan pembelian hanya untuk meniru orang lain atau kelompoknya dan mengikuti mode yang sedang beredar.
d.    Menarik perhatian dari orang lain
Pembelian dilakukan karena seseorang ingin menarik perhatian dari orang lain, dengan cara menggunakan barang bermerk dan semacamnya, sehingga ada sesuatu yang mendorong orang untuk membeli suatu produk tanpa pertimbangan yang baik ataupun rasional.





PRODUKTIF


Tipe yang satu lagi juga merupakan tipe yang memenuhi kebutuhannya dengan membeli barang juga seperti tipe Konsumtif tadi. Namun untuk kedepannya, mereka cenderung untuk berpikir, bagaimana untuk bisa membuat barang seperti ini, meskipun tidak mirip tapi setidaknya bisa memiliki fungsi yang hampir sama dengan yang tadi mereka pakai.

Orang-orang seperti mereka tidak bisa kita katakan orang yang memiliki keterbatasan dana, oh jangan. Karena bukannya mereka tidak mau membeli barang tersebut, namun mereka lebih menginginkan kedepannya untuk bisa memproduksi barang tersebut dan bisa jadi dari hasil itupulalah yang menjadi mata pencaharian meraka.



Apa asyiknya menjadi seorang yang produktif?
  1. Anda bisa menghasilkan lebih banyak karya, manfaat, dan kebaikan di dunia ini sebelum Anda dipanggil kembali oleh yang Maha Kuasa
  2. Hidup menjadi lebih semangat untuk berkarya dan akan memanfaatkan hidup dengan sebaik-baiknya
  3. Usia akan lebih panjang dari umur Anda di dunia. Ya, sebagai contoh adalah Steve Jobs yang sudah meninggal dan sudah tiada di dunia ini. Apakah orang masih mengingatnya? Ya, bahkan anak cucunya pun pasti akan mengenangnya sebagai orang hebat dan legenda dalam bidang teknologi dengan menciptakan Apple.
  4. Dapat memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Waktu yang Anda miliki terbatas dan dengan menjadi produktif, Anda tahu bagaimana cara menggunakannya.
  5. Meraih kehidupan yang lebih seimbang dan prestatif. Prestasi dan capaian naik, potensi lebih tergali maksimal, dan hidup Anda menjadi tidak biasa.
  6. Dan lain sebagainya, masih banyak lagi loh!
Menjadi pribadi yang produktif memang bukan suatu hal yang dengan mudah dilakukan. 
Kita harus berperang dengan rasa malas yang menjerat dalam diri. Namun dengan tekat dan kreatifitas serta semangat yang tinggi maka menjadi pribadi yang produktif bukanlah hal yang mustahil. Dimulai dengan memperhatikan sekeliling kita, memanfaatkan sumber daya yang tersedia, dan menghindari pemborosan merupakan awal menjadi diri yang produktif.

Sungguh sangat disayangkan seandainya hidup Anda dihabiskan dalam kesia-siaan tanpa produktivitas sama sekali.

Selasa, 22 Maret 2016

Anak Buruh Kereta Api Menjadi Orang Terkaya Kedua di Dunia

Setelah Bill Gates ada nama seorang Amancio Ortega Gaona sebagai orang terkaya kedua di dunia versi forbes 2016. Hanya sedikit yang pernah mendengar namanya. Memang, profilnya sangat rahasia. 
Dia menghindari tampil di muka umum, dan menolak semua permintaan wawancara. Sampai tahun 1999, tidak ada foto Ortega yang pernah diterbitkan di manapun.
Namun, jauh di belahan bumi lainnya, di Paris, Milan, New York, bahkan Indonesia, Ortega berhasil membangun kerajaan fashion yang menjangkau lebih dari 80 negara. Anda pasti mengenal Zara. Ya, Ortega adalah pendiri Zara. Dan net worth Ortega diperkirakan mencapai $ 67 miliar.. Wow!

Akan tetapi, siapa sangka bahwa orang terkaya kedua di dunia ini berasal dari keluarga pelosok yang miskin?
Ortega adalah anak bungsu dari empat bersaudara. Ia lahir di Busdongo de Arbas, sebuah dusun berpopulasi 60 orang di Spanyol, pada tahun 1936, ketika Perang Saudara meletus di Spanyol. 
Sejak kecil ia bahkan tidak mendapatkan pendidikan formal dikarenakan kondisi perekonomian keluarganya yang amat memprihatinkan sebab itu di usianya yang 13 tahun ia memutuskan untuk berhenti sekolah dan membantu kedua orang tuanya bekerja. Ayah ortega merupakan pekerja biasa di rel kereta api, sementara ibunya hanyalah seorang pembantu rumah tangga.
Ketika Amancio masih kecil, keluarganya pindah ke La Coruña. Di sana, rumahnya tidak lain adalah sebuah rumah petak yang berbatasan dengan rel kereta api yang  sampai sekarang masih digunakan sebagai tempat tinggal para pekerja rel kereta api.
Amancio mungkin akan bergabung ke dalam industri kereta api juga, jika tidak mengalami satu malam yang mengubah hidupnya, ketika dia berusia 13 tahun. Berjalan pulang dari sekolah, ia dan ibunya berhenti di sebuah toko lokal, di mana sang ibu memohon agar boleh berhutang.
“Dia mendengar seseorang berkata, ‘Señora, saya tidak bisa memberikan ini kepada Anda. Anda harus membayarnya,” kata Covadonga O’Shea, seorang teman lama Ortega yang menjalankan sebuah sekolah fashion di Universitas Navarra di Madrid dan menulis biografi resmi tunggal dari Ortega, The Man From Zara. “Dia merasa begitu terhina, sehingga ia memutuskan ia tidak akan pernah kembali ke sekolah.”
Setelah berhenti sekolah, ia berkerja sebagai pengantar di tempat pembuatan pakaian mewah. Kemudian ia dipercaya dan diangkat menjadi asisten penjahit ditempatnya berkerja. Di tempat itu ia belajar bagaimana menjahit pakaian yang baik. Dia juga mempelajari bagaimana proses produksi hingga distribusi pakaian dari pabrik lalu ke toko. Di sini pula dia kemudian belajar betapa pentingnya memberikan pakaian langsung ke konsumen tanpa distributor.

Itulah yang kemudiaan dia gunakan sebagai salah satu strategi kesuksesan besarnya di Zara. Dia mencoba mengendalikan semua tahapan produksi tekstil guna memangkas biaya. Selain itu juga agar lebih cepat dan fleksibel dalam memproduksi pakaian. 
Setelah menjadi asisten penjahit, dia ikut bekerja bersama kedua saudara kandungnya, Antonio dan Josefa sebagai salesman di sebuah toko baju yang tengah berkembang.

Pada awal tahun 1960-an Ortega kemudian menjadi manajer di toko pakaian lokal. Dia lalu sadar bahwa hanya sedikit orang kaya yang mampu membeli baju-baju dengan harga mahal.
Bersama Rosalia Mera, dan kedua saudara kandungnya, mereka mulai memproduksi baju-baju murah namun berkualitas. Dia lalu jatuh cinta pada Mera dan menikahinya pada 1966. Dari situ, Ortega bersama sang istri mulai menjahit pakaian sendiri di ruang tamu rumahnya dan kemudian mulai mempekerjakan orang lain untuk menjahit seluruh desainnya dan mendirikan toko pertamanya. Dia tetap menjualnya dengan harga lebih murah namun dengan kualitas yang bagus.

Pada 1975, bersama istri pertamanya tersebut dia mendirikan toko Zara di depan toko perbelanjaan paling penting di kota Spanyol. Tempat itu merupakan lokasi yang sangat strategis. Bisnisnya terus maju dengan pesat karena harganya yang murah dan kualitasnya yang mewah. Pada 1989, Ortega tercatat telah membuka hampir 100 toko Zara di Spanyol. Saat ini, terdapat lebih dari 1.700 toko Zara di 86 negara yang tersebar di enam benua. Tak heran, Zara pun menjadi riteler pakaian terbesar di dunia. Bahkan Kate Middleton merupakan penggila sejumlah desain Zara.





 Jangan lupa, bisnis tersebut berasal dari ruang tamu rumahnya!
Ortega membangun kerajaannya pada dua aturan dasar: Berikan pelanggan apa yang mereka inginkan, dan berikan lebih cepat daripada orang lain. Kedua prinsip yang dipelajarinya dari Gala inilah yang jadi rahasia sukses menakjubkan Inditex.


Di dalam pabrik Inditex tampak seperti dunia sci-fi bercampur dengan bagian ritel kuno. Operasi mereka didasarkan pada dua aturan dasar Ortega. Hal ini membuat mereka mampu terus restocking dengan kecepatan tinggi. Karyawan Inditex bekerja cepat dan efisien: Desainer menciptakan sekitar tiga item sehari, dan pembuat pola memotong satu sampel dari masing-masing. Dan di samping mereka, duduk seorang spesialis komersial penjualan, masing-masing dengan keahlian regional, yang membedah selera dan kebiasaan pelanggan menggunakan laporan penjualan dari manajer toko Zara untuk melihat apa yang memiliki daya jual tinggi dan apa yang pelanggan cari.


Yang mengherankan, Ortega tidak pernah memiliki kantor. Bahkan sekarang, orang ketiga terkaya di dunia itu duduk di meja di ujung ruang kerja terbuka di bagian pakaian wanita. Ortega lebih memilih kain untuk disentuh daripada memo untuk dibaca.
Gaya kerja Ortega dan kemampuannya untuk terhubung dengan setiap karyawan, bahkan karyawan tingkat rendah menaikkan pertanyaan yang menarik: Apakah gaya eksekutifnya akan lebih hirarkis dan konvensional jika ia berasal dari sebuah keluarga istimewa dan dengan gelar MBA , bukan dari kemiskinan dan sedikit pendidikan? “Kemiskinan jelas membentuk siapa dia,” kata Blanco, penulis biografi tidak resmi itu. “Ada rasa lapar akan kesuksesan di sana. Tunjukkan setiap petinju hebat yang tidak berasal dari latar belakang semacam ini. ”
Semi pensiun, Ortega kini tinggal rumah lima lantai menghadap di laut di daerah La Coruña, di jalanan kota yang sibuk, dengan keamanan yang jelas sedikit. Dia makan sarapan setiap pagi (telur dan kentang goreng) dengan kenalannya di klub pengusaha La Coruña, dan beristirahat di akhir pekan ke rumah keluarga besarnya, di mana dia mengguling kambing dan ayam bakar dan mengumpulkan anak-anaknya yang sudah dewasa. Seperti sebuah kebiasaan, Ortega akan mencurahkan waktu seminggu dalam setahun untuk mendaki rute ke Galicia.
Zara bisa saja berubah. Akan tetapi orang yang membangun raksasa ritel itu akan selalu jadi pahlawan bagi yang berasal dari sebuah pedusunan. Pernah, ketika bepergian ke pembukaan gerai Zara di Manhattan, Ortega menyaksikan pembeli tumpah-tumpah di luaran gerai. Dia begitu terharu sampai harus mengurung diri di kamar mandi dan menangis. “Tidak ada yang boleh melihat air mata mengalir di wajah saya,” katanya kepada O’Shea. “Dapatkah kamu membayangkan bagaimana jika orang tua saya melihatnya? Betapa bangganya mereka karena putra mereka telah menguasai Amerika, mulai dari kota kecil yang hilang di penghujung utara Spanyol!”.

Kesuksesan tidak bergantung pada siapa dirimu saat dilahirkan, tapi pada usahamu saat telah dilahirkan.